Senin, 15 Februari 2016

lead



When people talk about the definition of LEAD is Loyalty, Educate, Advice, and Discipline.

Why me is about think the oppposite of it? It’s about Liar, Evi, Anarchy, and Demons. Isn’t it worth it? Sometime I dont believe at the lead. They just had an ambition through people mind that believe in them to put them to be a lead. When I write i become confuse about my own words that I struct.

Kamis, 04 Februari 2016

EVACUATION OF CONNECTING THE DOTS


“We are now living in an era of democration that believe and release the people persepective blowed thus, the diagnosis and destructing of our collective social pathology is crucial (Gablik: 1985: 59). Some people know the fact that human, animals, or things become connect to each other, but do we know how to connect those random dots into a cycle of life circumstances?.  Dots are above people’s mind, it could be develop when it been added. Dots are ballons inside our head contain of theory and our experience. We accept the dots randomly and unstructure, sometime it confuse us to understand why this become that and why that become this not in a single way or liniery condition again. Connecting the dots is about found a circulation between the eye-mind-and our experience beyond the symbols and how to understanding the symbol of art”. 

Selasa, 19 Januari 2016

Instagram as an Urban Lifestyle

go follow my instagram! : https://www.instagram.com/dessyrachms/

Ehem..
Saat ini mau nullis serius tentang fenomena Instagram sebagai urban lifestyle yang udah menjamur bagaikan blowjob praktis untuk embargo dan sosialisasi dengan ekesistensi terhadap karya seni yang dihasilkan seniman urban.
Okay, let's start !
Yak. Melihat sorotan terhadap fenomena sosial yang saat ini sebagian besar publik bergantung dengan status yang menampakkan kasta eksistensi di media sosial perlu dikaji sehubungan dengan dinamika globalisasi yang berlangsung saat ini. Media sosial yang dirancang untuk bertindak sebagai wadah komunikasi kini tidak hanya menjadi sekedar alat untuk berkomunikasi dengan saudar ataupun kerabat yang tinggal di daerah yang jauh. Media sosial saat ini hampir menjadi sebuah dunia primer bagi remaja yang tumbuh di era informatika. Seakan dunia nyata hanyalah tempat untuk menampakkan diri secara sublim. Apabila belum bergaya dan diakui dengan aksi simbolis berupa ‘likes’ maka sesorang belum dinyatakan ada. 

Internet yang pada tahun 2000an dikaji oleh Sassi dalam Ibrahim (p.98: 2011) mengungkapkan bahwa internet merupakan sebuah jembatan yang mempersilahkan masyarakat memasuki dunia maya secara aktif dan diharapkan mampu berkolaborasi dan menjadikan masyarakat dapat terikat secara idealis politik. Saat gerbang internet diluncurkan kedalam masyarakat yang saat itu tengah terpesona oleh kehadiran dunia maya yang dihadirkan melalui siaran TV memunculkan sebuah fenomena keberadaan cyberspace. Masyarakat perlahan mulai menganalisa fitur-fitur dalam internet dan berusaha memaksa diri untuk menjadi bagian dari sebuah perhelatan internet. Cyberspace ini kemudian menjamur di masyarakat dan terus mengalami perkembangan yang relevan sesuai dengan mobilitas era yang berlangsung. 

Fenomena cyberspace terus meluas dengan kemudahan untuk mengakses dunia maya menjadi lebih mudah karena ia berada di genggaman tangan tiap orang. Smartphone yang menyediakan layanan instan untuk memasuki dunia maya kini sudah dimiliki hampir diseluruh manusia di dunia. Dengan kemudahan jangkauannya, internet kemudian menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi manusia yang tumbuh di era informatika. Kebutuhan akan akses internet secara gratis kemudian menjadi hal yang paling diburu. Manusia menjadi butuh akan informasi terkini yang relevan dengan kehidupannya ataupun tidak relevan.  

Kemudahan akses upload-download menjadikan fenomena-fenomena baru yang mengiringi kemeriahan globalization movement seperti: 1) Selfie (potret diri) yang merujuk pada dunia fashion dengan fenomena #OOTD (Outfit Of The Day) sebuah kegiatan memadupadankan baju dengan gaya foto yang unik atau cantik. Selain itu terdapat pergerakan lain yakni 2) Artists on Instagram seseorang yang mengupload karya seninya dari mulai fotografi seperti fenomena foodgrapher (fotografi makanan), atau ilustrasi-ilustrasi yang sering kali bersikap aplikatif untuk diterapkan sebagai bagian dari fashion. Sebuah pergerakan ini kemudian memunculkan fenomena yang seakan menarik masyarakat muda untuk terjun menjadi bagian dari sebuah realitas semu.  

Hubungan manusia di dunia nyata kemudian bergabung seara perlahan dengan dunia maya. Manusia di era saat ini menjadi kalang kabut mencari pengakuan di dunia maya. Saat mereka kemudian diakui eksistensi dan karyanya di dunia maya maka secara otomatis orang kemudian akan menggunakan talenta yang dimilikinya untuk menampakkan diri di dunia nyata. Sebuah aksi mutualisme silang yang digunakan untuk memperoleh pengakuan. Beragam interaksi antar manusia yang saling berkenalan satu dengan yang lain saat ini sudah mulai menyangkutkan alamat media sosial yang dimiliki. Semisal dalam percakapan perkenalan seperti: “hey, kenalkan ini temanku bernama X kebetulan dia seniman yang beken di instagram, coba cek di instagram @X”. Bukan tidak mungkin kita tidak pernah mendengar sebuah percakapan seperti ini. Karenanya saat ini sepertinya terdapat jalan pintas untuk menjadi familiar di kalangan masyarakat umum, terutama bagi seorang perupa urban yang berkarya dengan basis tema kekinian. 

Kehadiran instagram sebagai media sosial dengan desain sederhana, fitur yang simpel, dengan penggunaan yang ringan terhadap smartphone, serta kelebihannya menjangkau issue secara luas menjadikannya sebagai fitur sosial media yang paling digemari oleh kaum urban. Fenomena ini menjadi penting dan signifikan untuk ditelisik lebih jauh, kerena sebuah keadaan yang memberikan beragam informasi secara banyak dan berlebihan akan menimbulkan dampak communicative abundance atau keberlimpahan komunikasi seperti yang diungkapkan John Keane dalam Ibrahim (p.10: 2011). Komunikasi yang tidak terbatas ini kemudian menyisir sebagian eksistensi sosialisme hubungan manusia dengan sekitarnya. Namun tak dapat diayal juga bahwa apabila seorang pengguna media sosial dapat melejitkan diri melalui subsidi silang eksistensi yang difasilitasi oleh internet.  

Kehadiran sebuah inovasi membawa dampak positif dan negatif. Instagram salah satunya merupakan sebuah wadah bagi para pencari informasi, pencari eksistensi dan instagram sangat ramai dengan kehadiran seniman-seniman yang mencari eksistensi melalui instagram sebagai media pengembangan dirinya. Sebuah siklus yang terus menerus berputar secara berkesinambungan dalam era saat in melejitkan berbagai seniman dari instagram melalui kumpulan komunitas yang dulunya diluncurkan di dunia nyata.  

Saat ini instagram bukan hanya sebagai media untuk mencari informasi tapi juga digunakan oleh seniman muda urban untuk menggotong dirinya sendiri menjadi bagian dari informasi tersebut. Setiap harinya seorang seniman yang menggunakan instagram sebagai media untuk memberitahukan khalayak bahwa seniman tersebut ada selalu berlaku dalam siklus take photos and upload secara sadar maupun tidak sadar. 

Tulisan ini masih menggunakan kajian pustaka yang saya buat untuk mempartikelir dan menyusun fenomena masyarakat urban yang seringkali bekerja secara instan. namun  fenomena didalamnya merupakan panduan untuk memperhatikan perubahan kebudayaan dengan terbukanya gerbang internet dalam masa teknologi instan saat ini. yea.

referensi:

Chaney, David. 1996. Lifestyle, Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra. 
Ibrahim, Subandy. 2011. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya Media dan Gaya Hidup dalam Proses 
Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra. 
Kleon, Austin. 2014. Show Your Work: 10 Ways to Share Your Creativity and Get Discovered. Jakarta: Mizan Media Utama.